Banyak yang masih bingung dengan Metode Sentra, yang belakangan mulai dilirik sekolah-sekolah yang ingin bergeser dari model konvensional ke sekolah ramah anak. Saking asingnya, ada yang menyangka “Sentra” ini nama pusat perbelanjaan, tempat kursus, atau mungkin pasar. Padahal, metode yang di asalnya (Florida, Amerika Serikat) dikenal sebagai BCCT (Beyond Center and Circle Time) ini punya kedalaman filosofi yang luar biasa. Meskipun namanya mungkin belum se-akrab Montessori atau kurikulum Cambridge di telinga kita, faktanya Metode Sentra yang dibawa oleh Bu Wismiarti Sekolah Al Falah Jakarta ini, oleh Kementerian Pendidikan sejak awal tahun 2000-an telah ditetapkan sebagai salah satu standar pembelajaran PAUD di Indonesia.
Di sekolah kami sendiri, Metode Sentra bukan sekadar eksperimen singkat; kami menggunakannya secara konsisten mulai dari baby house hingga kelas 4 SD. Melalui tulisan kali ini, saya ingin berbagi tentang apa itu Metode Sentra, mengapa kami jatuh cinta pada metode ini, dan apa saja keunggulannya bagi tumbuh kembang anak. Tenang saja, saya tidak akan menggunakan istilah “bahasa langit” yang membuat dahi Ayah Bunda berkerut. Kita akan bahas pakai bahasa “warung kopi” saja—santai, tapi isinya sampai ke hati.
Analogi: Belajar Seperti di “Taman Bermain Profesional”
Pernahkah ayah bunda masuk ke sebuah bengkel, dapur restoran, dan studio lukis? Ketiganya punya alat yang berbeda, aturan main yang beda, dan hasil yang beda pula. Meskipun berbeda, kita tahu bahwa mereka yang bekerja di tempat-tempat tersebut pada dasarnya ingin memenuhi kebutuhan hidupnya. Nah, Metode Sentra itu ibarat menyiapkan “dunia-dunia kecil” ini untuk anak.
Kita tidak menyuruh anak duduk di kursi kayu selama 3 jam untuk mendengarkan ceramah tentang gravitasi. Sebaliknya, kita bawa mereka ke Sentra Balok. Di sana, saat menara yang mereka bangun ambruk, mereka belajar gravitasi secara nyata tanpa perlu menghafal definisi di buku teks. Kita tidak menyuruh mereka menghafal warna, kita bawa mereka ke Sentra Bahan Alam untuk mencampur warna dari dari 3 baskom air berwarna merah, biru, dan kuning sehingga mereka menemukan warna-warna baru.
Seperti wadah baskom tempat kita mencampur semua bahan untuk membuat pisang goreng, seperti itulah Sentra. Segala macam knowledge atau pengetahuan dan tujuan belajar yang ingin dicapai oleh anak diperoleh mereka melalui berbagai kegiatan di sentra yang berbeda-beda. Meskipun berbeda-beda, namun arahnya tetap untuk memenuhi tujuan belajar yakni terpenuhinya kebutuhan anak.
Intinya? Sentra adalah cara kita membagi-bagi area main supaya stimulasi otak anak tidak “tabrakan” dan tepat sasaran. Di sini, anak bukan objek yang dijejali teori, tapi subjek yang menemukan ilmu lewat tangan dan pengalaman mereka sendiri.“
Kenapa Metode Ini “Ramah Otak Anak”?
Mungkin ada yang tanya, “Kenapa nggak pakai cara lama saja, Bang? Yang duduk manis, dengerin guru, terus nulis di buku atau menyambung titik-titik sehingga membentuk huruf untuk anak TK.”
Begini, secara neurosains (tapi ini versi bahasa ringannya, ya), otak anak usia dini itu ibarat mesin yang bahan bakarnya adalah gerakan dan pengalaman sensorik.
Gerak = Oksigen untuk Otak: Di Sentra, anak banyak bergerak. Mereka tidak duduk diam. Di Sentra balok misalnya, mereka harus bolak-balik ke rak balok untuk mengambil balok yang digunakan untuk membangun. Guru sengaja tidak menyediakan keranjang agar anak bergerak. Contoh lain di Sentra Matematika SD, anak-anak melompati garis yang dibuat guru di lantai. Mereka bergerak untuk merasakan perubahan posisi ketika operasi hitung bertambah atau berkurang di garis bilangan. Gerakan fisik ini memicu aliran darah ke otak lebih maksimal. Otak yang segar akan lebih cepat menangkap konsep daripada otak yang “ngantuk” karena kelamaan duduk diam.
Membangun “Sirkuit” Perencanaan: Saat anak di Sentra Main Peran memutuskan mau jadi apa, pakai baju apa, dan bicara apa, otak mereka sedang latihan tingkat tinggi yang disebut Executive Function. Ini adalah kemampuan merencanakan, fokus, dan mengendalikan diri. Jauh lebih efektif daripada sekadar disuruh patuh.
Hormon Bahagia (Dopamin): Karena mereka merasa sedang “bermain” (padahal sedang belajar keras), otak melepaskan dopamin. Belajar dalam kondisi bahagia membuat memori tersimpan lebih permanen di jangka panjang (long-term memory).
Mengutip Anna Freud, bermain adalah cara anak belajar. Jadi, perlu ditekankan bahwa: ini adalah belajar melalui main, bukan “belajar sambil bermain”. Karena bagi anak, bermain itu bukan sambilan. Mereka betul-betul bermain, namun sejatinya sedang menanamkan konsep ilmu pengetahuan ke dalam ingatan mereka.
Inti BCCT: “Pijakan” Bukan “Perintah”
Dalam metode Sentra, kita mengenal istilah Pijakan (Scaffolding). Di sini, guru tidak berperan sebagai instruktur galak yang semua perintahnya harus dipatuhi. Alih-alih mendominasi, guru justru sibuk menyiapkan “tangga” atau pijakan agar anak bisa naik ke level perkembangan berikutnya secara mandiri.
Setidaknya ada 4 pijakan yang disiapkan guru dalam setiap sesi:
- Pijakan Lingkungan: Menata alat main yang menantang tapi aman.
- Pijakan Sebelum Main: Membangun aturan dan konsep melalui diskusi awal.
- Pijakan Saat Main: Guru berkeliling memberikan dukungan individual saat anak bekerja.
- Pijakan Setelah Main: Proses recalling atau diskusi untuk mengikat pengalaman menjadi pengetahuan.
Ibaratnya, guru adalah seorang Pemandu Wisata. Wisatanya (proses belajarnya) tetap dilakukan sepenuhnya oleh anak melalui kegiatan bermain yang sudah dirancang sedemikian rupa. Tugas guru hanyalah menunjukkan jalan, memberikan dukungan di saat yang tepat, dan memastikan semua anak tetap aman dalam petualangan belajarnya.
Penutup
Melihat bagaimana otak bekerja, metode sentra sangat memanusiakan anak. Anak-anak yang tipikalnya memang senang bergerak tidak dipaksa duduk manis dengan tangan dilipat dan mulut dikunci lalu kuncinya dibuang. Mereka bergerak, bermain, bekerja, menghasilkan karya, serta tumbuh dan berkembang kemampuannya. Selain itu melalui pijakan individual ketika anak bermain, guru bisa menghargai bahwa setiap anak memiliki “pintu masuk” belajar yang berbeda-beda.
Singkirkan jauh-jauh rasa takut kalau kelas jadi berantakan dan ramai karena di dalam berantakan itu terdapat pembelajaran yang bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menggembirakan (joyful). Di Sentra, anak-anak juga dibiasakan bertanggung jawab karena di pijakan akhir sebelum recalling anak membereskan dulu tempat main atau kerja mereka dan selalu mengembalikan barang pada tempatnya.
Nah, setelah baca penjelasan di atas, apa sih mitos atau ‘kata orang’ tentang Metode Sentra yang paling sering Anda dengar? Misalnya: ‘Sentra itu cuma main-main doang ya?’ atau ‘Sentra itu mahal?’. Yuk, tulis pertanyaan atau keresahan Anda di kolom komentar, nanti saya jawab di tulisan berikutnya!
