Coretan Itu Bukan Kekacauan, Itu Tanda Kecerdasan!

Waktu abang Al anak pertama kami berusia sekira 2 tahun, dinding kamar kami tiba-tiba penuh dengan coretan. Padahal kami sudah sediakan kertas HVS yang banyak di rumah. Tentunya ini bikin geregetan karena kami berupaya menjaga agar ketika dia mulai mencorat-coret dia lakukan di kertas. Ternyata, fase “menulis” sambil berdiri tetap harus dilaluinya sehingga kami mencari solusi dengan menempelkan kertas di dinding. Itu pun terkadang masih luput karena coretan berupa garis panjang yang katanya “Jalan raya” yang dia buat keluar dari kertas .
Di lain waktu ada orang tua yang curhat kepada saya merasa khawatir dengan anaknya. Pasalnya si kecil masih asyik membuat benang kusut di kertas sementara ada teman sebayanya yang sudah menulis huruf A dengan rapi.
Sebelum belajar Tahap Perkembangan Menulis, saya juga sempat berpikir bahwa “menulis” adalah kegiatan anak membuat huruf, kata, dan menyusunnya menjadi kalimat. Padahal menurut riset yang dilakukan oleh National Association for the Education of Young Children (NAEYC), perjalanan menulis anak itu jauh lebih luas dari sekadar memegang pensil dengan benar.
Menulis adalah bagian vital dari perkembangan literasi. Bahkan, coretan-coretan yang sering kita anggap “cakar ayam” itu adalah cara mereka memberi tahu kita: “Hei, aku punya ide dan maksud yang ingin aku sampaikan!”
Di artikel ini, Bang Said mau sharing 5 aktivitas sederhana yang bisa kita lakukan di rumah untuk mendukung kemampuan menulis si Kecil, tanpa bikin mereka stres (dan tanpa bikin Ayah Bunda pusing!). Dengan kegiatan-kegiatan ini berdasarkan pengalaman kami, anak akan bisa menulis kalimat terus menerus di kertas menjelang di masuk sekolah formal (SD).
1. Jadikan Alat Tulis Mudah Diakses (Sediakan “Senjata” Mereka)
Langkah pertama ini paling simpel tapi sering kita lupakan. Kadang kita menyimpan spidol atau krayon di lemari tinggi karena takut berantakan. Padahal, anak perlu akses mudah untuk mulai bereksplorasi.
Apa yang bisa dilakukan? Sediakan keranjang khusus berisi kertas, spidol, krayon, kapur, atau bahkan huruf magnetik di area bermain mereka. Keponakan saya yang sekarang berusia 4 tahun sejak usianya menginjak 2 tahun sudah senang dengan macam-macam huruf dan selalu minta dibelikan aneka mainan huruf ketika mama papanya pergi. Kadang bermodal adonan plastisin, dia membuat berbagai bentuk hurufnya sendiri.
Ekspektasi Realistis: Jangan kaget kalau awalnya mereka cuma bikin garis atau lingkaran. Lama-kelamaan, mereka akan mulai membuat bentuk-bentuk dan selanjutnya menulis sesuai bunyi yang mereka dengar (ejaan fonetik). Misalnya, mereka mungkin menulis “PON” untuk Pohon atau “MKN” untuk Makan. Itu progres yang luar biasa, lho!
2. Menulis Bersama (Modeling)
Sebagai peniru ulung, ketika anak-anak jarang melihat kita menulis selain mengetik di HP, mereka akan susah memahami fungsinya.
Ajak si kecil terlibat dalam kegiatan menulis sehari-hari. Yang pernah kami lakukan misalnya setiap akan belanja ke minimarket, kami mengajak abang atau adik untuk menulis daftar belanjaan. Bisa juga ketika ayah membuat to-do list di buku agenda, mereka kami ajak untuk menulis versi mereka.
Tips Bang Said : Ketika mereka punya cerita seru yang panjang tapi belum bisa menuliskannya, ayah bunda bisa menjadi “sekretaris” mereka. Tuliskan apa yang mereka ucapkan. Misalnya ketika mereka selesai mendengarkan cerita yang kita bacakan. Kegiatan ini membantu mereka memahami konsep bahwa ““kata-kata yang keluar dari mulutku bisa berubah jadi tulisan”.
3. Masukkan “Menulis” ke Dalam Permainan (Role-Play)
Mulai usia 1 tahun, akan muncul kemampuan main pura-pura di anak. Nah kegiatan menulis bukan hanya harus duduk diam dengan seperangkat kertas dan krayon di meja belajar. Justru cara belajar yang paling efektif adalah lewat bermain.
Coba perhatikan permainan favorit mereka :
- Main Restoran? Minta mereka jadi pelayan yang mencatat pesanan Ayah Bunda.
- Main Dokter-dokteran? Minta mereka tulis resep obat (meskipun isinya cuma coretan gelombang).
Pastikan kertas dan pensil selalu ada di dekat area bermain mereka, jadi kapan pun ide itu muncul, alatnya sudah siap.
4. Padukan Menulis dengan Menggambar
Seringkali kita memisahkan kegiatan menggambar dan menulis. Dari artikel NAEYC yang saya baca justru mengajak anak untuk mengilustrasikan tulisan mereka adalah poin penting agar mereka memahami makna di balik simbol-simbol huruf. Ini kenapa dalam kegiatan jurnal di Sekolah Al-Amanah, biasanya anak usia dini memulainya dengan menggambar.
Jangan kritik gambar mereka termasuk ketika gambar yang dibuat lebih dominan ketimbang huruf-hurufnya. Bisa jadi huruf-huruf tersebut tampak miring kesana kemari atau menyebar disana sini. Fokus kita pada eksplorasi. Kerapihan huruf urusan nanti ketika dia di SD. Biarkan saat ini mereka percaya diri sebagai penulis cilik.
5. Dengarkan dan Pajang Karya Mereka (Apresiasi!)
Pernah nggak si Kecil lari-lari bawa kertas sambil teriak, “Lihat aku bikin surat!” padahal isinya nggak terbaca?
Di momen itu, tugas kita adalah mendengarkan. Tanya ke mereka, “Wah, ini bacanya apa? Ceritain dong ke Ayah/Bunda.”. Interaksi ini jauh lebih berharga daripada sekadar nilai 100 di buku tulis.
Jangan lupa, pajang karya mereka. Tempel di kulkas, dinding kamar, atau papan khusus. Ajak mereka melihat kembali tulisan lama mereka untuk melihat perubahannya. “Wah, dulu Adek nulisnya gini, sekarang sudah bisa bikin huruf A ya!”
Nikmati Prosesnya
Menulis adalah sebuah perjalanan maraton, bukan lari sprint. Mulai dari coretan acak di tembok (yang semoga bisa dialihkan ke kertas ya, Bun! 😂), berubah menjadi coretan yang terarah, membuat bentuk, menulis ejaan, kata, kalimat, dan akhirnya mereka bisa menulis esai panjang. Semuanya adalah proses bertahap yang harus dilalui anak, bukan instan dengan paksaan menulis dengan menyambungkan titik-titik yang sudah disediakan orang dewasa.
Sebagai orang tua, tugas kita bukan sibuk mengoreksi kesalahan ejaan, melainkan menjadi fasilitator yang menyediakan alat dan semangat menulis. Itu kenapa dalam kegiatan jurnal pagi di sekolah misalnya, guru tidak boleh mengoreksi tulisan anak. Mereka harus merasakan menulis sebagai pengalaman yang menyenangkan, tanpa arahan, paksaan, maupun aturan-aturan penulisan yang mengganggu semangat.
Semoga 5 tips di atas bisa membantu Ayah Bunda menemani si Kecil belajar menulis dengan lebih fun. Selamat mencoba!
(Artikel ini diadaptasi dari publikasi “Activities to Support Your Child’s Writing Development” oleh Julia Sisbarro, Teressa Cameron Sumrall, dan Randa Dunlap di jurnal Educating Young Children, Winter 2026).
Punya pengalaman unik saat melatih si Kecil menulis? Atau punya foto “karya abstrak” yang lucu? Yuk, share cerita Ayah Bunda di kolom komentar di bawah atau mention @bangsaid di Instagram!

Pingback: Anak Belum Bisa Calistung di TK B: Normal atau Tanda Bahaya? ~ Bangsaid