Anak Belum Bisa Calistung di TK B: Normal atau Tanda Bahaya?

By | February 9, 2026

Di beberapa kesempatan, saya bertemu dengan orang tua murid TK B baik dalam seminar parenting maupun bertemu dan ngobrol santai. Beberapa dari mereka mengutarakan kegelisahannya mengapa putra putri kecilnya yang sebentar lagi akan pindah ke SD namun belum lancar membaca.

“Teman-temannya sudah bisa baca buku cerita? Anakku masih terbata-bata nih, Bang,” begitu salah satu curhatnya.

Sebetulnya, wajar jika orang tua merasa cemas atas kondisi tersebut mengingat saat ini tuntutan masuk SD memang tinggi. Di beberapa sekolah favorit misalnya, mensyaratkan tes calistung sebelum masuk SD. Padahal tes semacam ini sudah dilarang oleh kementerian pendidikan (baca : kemendikdasmen) sejak lama. Meskipun demikian, masih ada sekolah-sekolah “nakal” yang mengganti namanya menjadi asesmen masuk SD dimana praktiknya sama saja.

Sudut Pandang Neurosains

Dalam kacamata neurosains (ilmu yang mempelajari bagaimana otak dan sistem saraf membentuk behavior atau perilaku manusia), belajar merupakan proses menyambungkan sel-sel saraf dan penebalan selubung saraf (myelination). Setiap satu sambung saraf terbentuk artinya muncul kemampuan baru di anak. Kemampuan tersebut menjadi kebiasaan ketika selubung sarafnya menebal. Semakin banyak sambungan saraf dan semakin tebal lapisan myelin berarti semakin cerdas si anak.

Bagian otak yang memproses hal-hal abstrak termasuk simbol seperti huruf dan angka secara rata-rata baru matang di usia 6 – 7 tahun. Ketika anak berusia 5-6 tahun atau duduk di bangku TK A dan B bagian ini seringkali masih umum. Sehingga wajar mereka kesulitan membedakan huruf b dan d. Anak-anak yang sudah mulai menulis pun biasanya menggunakan huruf kapital untuk membedakannya di dalam tulisan yang mereka buat.

Jika diibaratkan dengan komputer yang sedang dirakit hardware-nya, kemampuan calistung abstrak dengan simbol-simbol seperti huruf dan angka adalah software yang berat. Ketika kita memaksa memasang software berat di hardware yang tidak kompatibel, komputer akan “hang” atau “rusak”.

Bahaya “Karbitan”

Apa rasanya buah mangga yang dipetik muda lalu dikarbit? Luarnya nampak kuning (matang), namun di dalamnya masam, sepat, serta cepat busuk.

Anak-anak yang diajarkan calistung dengan cara di-drill seperti banyak dilakukan oleh kursus membaca dan atau sekolah yang tidak memperhatikan bagaimana anak berkembang, mungkin akan terlihat “hebat” sudah bisa membaca di usia 4 tahun. Tapi sebenarnya pondasi mentalnya rapuh.

Tidak sedikit kami menerima murid yang lulus TK sudah dipuji-puji pintar membaca, tapi saat kelas 2 atau 3 SD tiba-tiba “mogok” sekolah dan tidak suka buku. Ada juga anak kelas 4 – 5 SD yang sudah pintar membaca di TK, namun untuk memahami maksud isi tulisan yang dia baca saja kesusahan. Penyebabnya adalah otak mereka mengalami kelelahan (burnout) sebelum waktunya. Persis seperti memaksakan software berat ke hardware yang tidak kompatibel atau cocok.

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Metode drilling (hafalan tanpa pemahaman – Di kesempatan lain kita bahas apa saja yang termasuk metode drilling calistung), bisa mengakibatkan hilangnya curiosity anak. Fitrahnya, anak-anak adalah penjelajah dan penanya ulung.

Drilling menjadikan anak bisa namun tidak paham. Mereka menjadi robot yang hanya bisa menjawab soal namun tidak memahami konteks. Padahal kita tidak sedang mencetak robot penghafal abjad melainkan sedang membesarkan manusia pembelajar.

Solusi Konkret (Stimulasi Pra-Membaca yang Tepat)

Penjelasan di atas seharusnya bisa membuat ayah bunda tetap tenang dan tidak panik ketika si kecil yang saat ini duduk di bangku TK belum bisa membaca. Dari pada sibuk bertanya “Kapan anakku bisa membaca”, lebih baik mulai sibuk dengan menyiapkan pondasi-pondasi membacanya.

Dalam konteks praktik pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice), membaca ada tahapannya. Pondasi yang dimulai dengan membaca warna, bentuk, ukuran, baru pindah ke simbol, harus dibangun dengan kuat. Pondasi ini akan mempermudah anak-anak memahami makna simbol, huruf, dan kata yang akan membantu mereka tidak hanya lancar membaca namun juga menjadi pandai membaca di usia SD.

Inilah yang dilakukan guru-guru di sekolah kami yang menerapkan metode sentra. Anak-anak bermain namun tetap penuh makna karena dalam main mereka sebenarnya sedang menyiapkan pondasi membaca dan berhitung melalui kegiatan-kegiatan di sentra. Misalnya ketika menyusun balok, mereka membaca bentuk dan ukuran. Selepas bermain balok mereka menghitung berapa jumlah balok yang digunakan serta mengklasifikasi berdasarkan jenisnya.

Di sentra bahan alam mereka meneliti warna, membandingkan ukuran, dan menguatkan motoriknya. Begitu juga ketika bekerja di sentra seni.  Tidak hanya mengenal aneka warna, bentuk, dan bahan, anak-anak juga belajar bahwa kombinasi warna, bentuk, dan bahan akan bisa menghasilkan benda baru yang bermakna. Pondasi ini sangat dibutuhkan untuk memahami rangkaian huruf ternyata adalah kata yanng memiliki makna.

Jadi di pendidikan usia dini kita seharusnya menyiapkan dulu akarnya agar nanti buahnya manis.

Berikut ini 3 solusi untuk penguatan pondasi callistung di usia TK :

1.  Membangun “Bank Kata” (Read Aloud)

Saya sangat menyarankan orang tua untuk memiliki amunisi (bahan bacaan bersama si kecil) di rumah. Membacakan buku secara nyaring akan sangat membantu anak mengenali banyak kata. Anak-anak perlu mendengar ribuan kata sebelum mata mereka siap membacanya. Ribuan kata ini menjadi bank kosakata yang akan memperkaya struktur bahasa di otak mereka.

Berdasarkan pengalaman kami terhadap anak-anak di rumah maupun di sekolah, kegiatan read aloud ini memiliki dampak positif yang tinggi. Anak menjadi cinta dengan buku, bukan takut buku.

2. Kuatkan Otot Sebelum Pegang Pensil

Tulisan “cakar ayam” adalah salah satu fase menulis. Setiap anak akan mulai menulis ketika mereka memegang krayon, spidol, atau pensil. Mula-mulanya memang coretan acak karena kemampuan otot-otot motorik di jari serta kemampuan koordinasi antara mata dan tangannya masih rendah.

Oleh karena itu, agar tulisan cakar ayam tadi berubah dan menjadi lebih jelas bentuknya, otot motorik harus dikuatkan. Bermain monkey bar (bergelantungan) akan menghuatkan otot bahu dan tangan. Adapun meremas playdough, memeras spons, meronco manik-manik akan membantu menguatkan hari.

Jangan paksa anak memegang pensil kalau memeras kain pel saja mereka belum kuat.

3. Lingkungan Kaya Literasi

Waktu abang Al berusia 2 tahun, semua benda-benda di rumah diberikan label oleh mamanya. Mulai dari pintu, meja, lemari, rak, kulkas, sampai kipas angin tertempel tulisan nama bendanya. Membiarkan dia melihat banyak tulisan dalam kesehariannya sangat membantunya bisa membaca di usia 5-6 tahun.

Setiap Bunga Mekar di Waktu yang Berbeda

Ayah Bunda, sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk menarik napas lega.

Jika saat ini Ananda di TK B belum lancar membaca, itu bukan akhir dunia. Itu bukan tanda kegagalan orang tua, apalagi tanda kebodohan anak. Itu hanyalah tanda bahwa “bunga” kecil kita sedang memperkuat akarnya sebelum ia siap memamerkan kelopaknya yang indah.

Ingatlah, Tuhan menciptakan setiap anak dengan timeline biologis yang unik. Ada yang bisa membaca di usia 4 tahun, ada yang baru “klik” di usia 7 tahun. Keduanya normal, selama stimulasinya tepat dan tidak ada paksaan yang melukai mentalnya.

Tugas kita sebagai orang tua dan pendidik bukanlah menjadi “joki” yang memecut kuda agar lari sekencang mungkin demi gengsi. Tugas kita adalah menjadi “tukang kebun” yang setia menyiram, memberi pupuk kasih sayang, dan memastikan tanahnya subur.

Percayalah, saat akarnya kuat (kematangan emosi, motorik, dan kognitif), pohon literasi itu akan tumbuh menjulang tinggi dan kokoh, tak mudah roboh diterpa angin ujian sekolah kelak.

Masih Ragu dengan Tumbuh Kembang Ananda?

Meskipun “terlambat baca” itu seringkali normal, saya paham bahwa insting orang tua tidak bisa dibohongi. Jika Ayah Bunda merasa ada hambatan perkembangan yang tidak biasa, atau bingung membedakan antara “belum matang” dengan “gangguan belajar”, jangan dipendam sendiri.

Mari kita bedah bersama masalahnya agar solusinya tepat sasaran.

👉 Klik di sini untuk Jadwalkan Sesi Konsultasi Pendidikan bersama Bang Said

Atau, Ayah Bunda bisa mulai dengan membaca artikel saya lainnya untuk memperkaya wawasan:

  • Kenapa Anak Suka Coret-Coret Tembok? Itu Tanda Cerdas!Baca di sini

  • Bagaimana Menyiapkan Anak Masuk TK?Baca di sini

Semoga bermanfaat, dan salam pendidikan yang memerdekakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *